5.2 Keterampilan Kader
Penelitian kami pada tahun 2024 menemukan bahwa banyak pasien dan keluarga yang enggan 'ditanya-tanya' terutama oleh orang baru atau yang belum akrab, karena belum siap berdiskusi. Hal ini sejalan dengan keluhan para kader yang merasa 'ditolak' di awal pertemuan dengan pasien dan keluarga. Meskipun awalnya enggan, pasien dan keluarga menyatakan senang dikunjungi dan diajak bercerita. Beberapa bahkan menyatakan bahwa kunjungan tersebut menurunkan kegelisahan dan mengalihkan sejenak perhatian dari sakit dan beban yang dialami. Artinya, kehadiran Bunda Kader sangat dinantikan, hanya saja topik diskusi perlu disusun dengan tepat.
Kami menyarankan Bunda Kader untuk tidak langsung menggali informasi mendalam pada pertemuan awal. Sebaiknya fokus untuk membangun hubungan saling percaya terlebih dahulu. Biarkan pasien dan keluarga merasa nyaman. Dengan kunjungan rutin, mereka akan lebih terbuka seiring waktu.
Agar dapat menjalankan peran dengan baik, Bunda Kader perlu memiliki keterampilan dasar berikut:
1. Memiliki pengetahuan tentang kanker payudara
Untuk dapat memberikan dukungan pada pasien kanker payudara, tentu Bunda Kader juga perlu memiliki pengetahuan yang cukup. Oleh sebab itu, dengan mengikuti kegiatan Communicated, yaitu membaca buku saku, menyimak video serta menyimak semua informasi dalam website Communicated, serta mengikuti pelatihan, menjadi salah satu upaya Bunda Kader belajar. Selain itu, Bunda Kader dapat terus belajar dan memperkaya wacana mengenai kanker payudara dengan mengikuti berbagai kegiatan di lingkungan dan puskesmas.
2. Menerapkan prinsip komunikasi interpersonal yang efektif
Komunikasi interpersonal adalah proses berbagi informasi dan perasaan kepada orang lain melalui cara verbal (tutur langsung) dan non-verbal (bahasa tubuh misalnya pandangan mata, gerakan tubuh, dan lain-lain). Beberapa aspek penting dalam keterampilan komunikasi meliputi:
- Membangun hubungan yang bersifat empati (saling memahami) dan menjaga kepercayaan pasien serta menyelaraskan dengan gaya komunikasi pasien dan keluarga.
- Menyampaikan informasi medis dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh pasien dan keluarganya. Hindari perkataan atau sikap yang menggurui atau menyalahkan.
- Mendengarkan secara aktif untuk memahami kebutuhan dan kekhawatiran pasien. Bunda perlu mendengarkan dengan sebaik-baiknya, sehingga betul-betul dapat memahami kebutuhan dan kekhawatiran mereka.
- Memberikan motivasi kepada pasien mBC dan keluarga untuk tetap semangat menjalani perawatan.
Berikut beberapa langkah yang dapat Bunda Kader lakukan ketika melakukan komunikasi yang efektif yaitu:
Sikap tubuh terbuka dalam berdiskusi sangat penting. Sikap tubuh terbuka adalah dengan duduk berhadapan dengan lawan bicara, tidak menyilangkan kaki dan tangan, menatap mata, mengangguk, tidak melihat ke arah jam serta memberikan tampilan wajah netral walaupun kita belum tentu setuju dengan yang disampaikan oleh orang lain. Tunjukkan pada pasien/keluarga bahwa Bunda Kader memberikan perhatian penuh dengan mendengarkan cerita mereka.
Gambar 8. Berbagai contoh bahasa tubuh yang terbuka dan tertutup saat melakukan komunikasi.
Pertanyaan terbuka adalah jenis pertanyaan yang memungkinkan jawaban yang bebas, mendalam dan luas sesuai dengan pengalaman dan pemikiran seseorang.
Sedangkan pertanyaan tertutup adalah jenis pertanyaan yang membatasi jawaban yang singkat dan spesifik seperti jawaban ya/tidak atau pilihan tertentu. Untuk dapat lebih memahami situasi dari pasien dan keluarga, Bunda Kader perlu memastikan untuk senantiasa menggunakan jenis pertanyaan terbuka.
Berikut ini adalah contoh pertanyaan terbuka dan tertutup.
Pertanyaan terbuka:
Bagaimana kondisi ibu hari ini?
Pertanyaan tertutup:
Apakah hari ini ibu merasa mual?
Pertanyaan terbuka:
Bisa diceritakan gejala apa yang ibu rasakan setelah kemoterapi?
Pertanyaan tertutup:
Sudahkah ibu buang air besar hari ini?
Pertanyaan terbuka:
Apakah yang ibu rasakan setelah kemoterapi?
Pertanyaan tertutup:
Apakah ibu merasakan nyeri di lengan kanan atau lengan kiri setelah kemoterapi?
Pertanyaan terbuka:
Bagaimana perasaan ibu setelah mendengar bahwa kanker payudara ibu telah menjalar ke paru-paru?
Pertanyaan tertutup:
Apakah ibu merasa sedih setelah mendengar bahwa kanker telah menyebar?
Gunakan bahasa yang sederhana, singkat, padat, dan jelas supaya mudah dipahami. Tujuannya supaya pasien mudah mengingat informasi yang diberikan.
Bahasa sederhana:
Jangan lupa untuk rajin kontrol ya Bu supaya kondisi Ibu terus bisa dipantau
Bahasa kompleks:
Pasien memang perlu monitoring berkala untuk evaluasi respons terhadap terapi dan pencegahan komplikasi lebih lanjut
Bahasa sederhana:
Obatnya harus diminum setiap hari sesuai anjuran dokter ya Bu
Bahasa kompleks:
Kepatuhan minum obat perlu dijaga agar kadar terapeutik tetap stabil dan mencegah resistensi terapi
Ulang kembali apa yang Bunda Kader dengar untuk memastikan bahwa Bunda dan pasien/keluarga memiliki pemahaman yang sama. Hal ini juga dilakukan untuk memastikan bahwa komunikasi berjalan dua arah, yang artinya proses komunikasi dua pihak yang saling mendengarkan, berbicara dan merespons satu sama lain.
Situasi 1: Pasien mengeluh tidak enak badan
Pasien: "Sudah seminggu ini rasanya badan ini tidak enak"
Kader (klarifikasi): "Maaf Bu, maksudnya ibu merasa capek karena aktivitas fisik atau lelah secara pikiran karena memikirkan situasi Ibu saat ini? Apakah ada waktu tertentu ketika rasa capek itu terasa lebih berat?"
Situasi 2: Klarifikasi gejala
Pasien: "Badan saya terasa sakit"
Kader (klarifikasi): "Bisakah diperjelas, sakit yang dirasakan di sebelah mana? Di bagian bekas operasi, di dada atau di area lain?"
Umpan balik dalam diskusi adalah memberikan pernyataan tentang apa yang telah dilakukan oleh orang lain yang bertujuan untuk menguatkan perilaku yang sudah berjalan dengan baik.
Situasi 1: Menguatkan pasien selama kemoterapi
Kader: "Saya kagum dengan semangat Ibu menjalani kemoterapi, terus dilanjutkan demikian ya Bu"
Situasi 2: Dukungan kepada keluarga
Kader: "Saya bisa melihat bagaimana sabarnya keluarga mendampingi ibu. Dukungan semacam ini sangat berarti bagi pasien, monggo terus dilanjutkan"
Umpan balik dalam diskusi adalah memberikan pernyataan tentang apa yang telah dilakukan oleh orang lain yang bertujuan untuk menguatkan perilaku yang sudah berjalan dengan baik.
Situasi 1: Menguatkan pasien selama kemoterapi
Kader: "Saya kagum dengan semangat Ibu menjalani kemoterapi, terus dilanjutkan demikian ya Bu"
Situasi 2: Dukungan kepada keluarga
Kader: "Saya bisa melihat bagaimana sabarnya keluarga mendampingi ibu. Dukungan semacam ini sangat berarti bagi pasien, monggo terus dilanjutkan"
Bunda Kader dapat memberi ruang yang cukup bagi pasien dan keluarga untuk diskusi. Jika ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, tidak perlu khawatir. Sampaikan dengan jujur, dan sarankan mereka untuk berdiskusi langsung dengan tenaga kesehatan saat konsultasi di rumah sakit.
Contohnya dengan kalimat berikut:
-
"Pertanyaan yang sangat baik, namun saya belum punya jawaban saat ini, saya catat dulu ya Bu/Pak dan cari tahu jawabannya, akan saya sampaikan pada kunjungan saya selanjutnya"
-
"Saat ini saya belum memiliki cukup informasi untuk menjawab pertanyaan tersebut, Bapak/Ibu dapat mencatat dan mendiskusikan dengan dokter atau perawat saat berkunjung ke rumah sakit."
Pasien dan keluarga sedang menghadapi tekanan fisik dan emosional yang besar, dan tidak jarang meluapkan kepada orang lain termasuk Bunda Kader. Usahakan untuk tidak terbawa emosi saat berkomunikasi dan hadapilah dengan sikap tenang dan pengertian.
Contoh:
Pasien: "Datang, cuma tanya-tanya, gak ada gunanya"
Kader: "Saya paham ibu merasa capek, saya hadir di sini untuk membantu sekiranya ada hal yang bisa saya bantu untuk mengurangi beban Ibu"
Hindari:
Hindari pernyataan kader: "Saya juga hanya relawan, cuma-cuma dan tidak dibayar"
Teknik:
Memahami emosi pasien
Tujuan:
Agar tidak merasa diserang secara pribadi, namun bentuk ketidakberdayaan seseorang
Teknik:
Menenangkan diri (tarik nafas dalam, biarkan 3-5 detik jeda sebelum menjawab)
Tujuan:
Mencegah reaksi emosional.
Teknik:
Memberikan komunikasi empatik dan tidak defensif (seperti contoh situasi di atas)
Tujuan:
Mencairkan suasana.
Teknik:
Refleksi tanpa menyalahkan:
Apa hal baik yang sudah saya lakukan?
Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?
Apa yang bisa saya tingkatkan di kemudian hari
Tujuan:
Belajar tanpa kehilangan semangat
Teknik:
Dukungan kader lain
Tujuan:
Mengurangi rasa kesendirian dan gagal
Teknik:
Fokus pada misi dan niat baik:
Mengingat misi utama yaitu membantu sesama
Ingatlah bahwa tidak semua orang memang ingin dibantu
Tujuan:
Memberi makna dalam setiap upaya kunjungan dan pendampingan
3. Memiliki prinsip solutif dan kemampuan berpikir ke depan
Sebagai pendamping pasien, Bunda Kader perlu memiliki kemampuan berpikir strategis dalam membantu pasien menghadapi tantangan selama pengobatan. Ini mencakup berbagai kemampuan Bunda Kader dalam:
-
Mengidentifikasi masalah atau potensi hambatan yang dapat menghambat pasien dalam mendapatkan pengobatan, misalnya masalah keuangan, mitos yang salah, kurang pengetahuan ataupun kurangnya kepercayaan diri pasien dan keluarga, atau masalah lainnya.
-
Mengidentifikasi budaya dan kepercayaan pasien dan keluarga yang berkaitan dengan perawatan pasien kanker, misalnya anggapan bahwa operasi kanker payudara justru menyebabkan penyebaran penyakit. Bunda Kader dapat mendiskusikan hal ini dengan tenaga kesehatan, lalu membantu menjelaskan kebenaran informasi kepada masyarakat.
-
Mengantisipasi kebutuhan pasien di setiap tahap perjalanan penyakitnya (tahap awal sakit, tahap pengobatan, dan tahap metastasis).
-
Mengidentifikasi anggota keluarga yang memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan perawatan pasien. Bunda Kader dapat menjaga hubungan baik dengan anggota keluarga ini untuk mendiskusikan mengenai rencana perawatan pasien.
-
Menyusun solusi praktis untuk membantu pasien dan keluarga mengatasi masalah mereka misalnya dalam mengakses layanan yang dibutuhkan dan berkoordinasi dengan petugas kesehatan.
-
Menjalin kolaborasi dan koordinasi dengan pemangku kebijakan dan aparat desa, misalnya RT/RW, dukuh, atau puskesmas untuk melakukan monitoring dan menindaklanjuti pasien kanker payudara. Bunda Kader juga perlu saling berbagi informasi mengenai lembaga pemberi bantuan (misalnya Yayasan Kanker Indonesia) serta ambulans di daerah masing-masing. Hal ini akan sangat bermanfaat saat mendampingi pasien dan keluarga.
Berbagai prinsip solutif ini kami tuangkan dalam alur kegiatan kunjungan rumah dalam Communicated.