Kembali
Bab 2

2.5 Perawatan Paliatif pada mBC

Paliatif didefinisikan sebagai upaya yang diberikan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa. Perawatan paliatif bertujuan untuk peningkatan kenyamanan dan bukan lagi untuk penyembuhan, serta untuk mengarahkan pasien mendapatkan perawatan yang bermartabat.

Di Indonesia, Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 180 tahun 2023 menyatakan bahwa pasien di segala usia yang menderita berbagai penyakit serius, salah satunya kanker, layak untuk memperoleh perawatan paliatif. Dalam dokumen tersebut juga dinyatakan bahwa kader terlibat sebagai salah satu komponen pemberi pelayanan paliatif di masyarakat di bawah koordinasi rumah sakit dan puskesmas.

Tujuan kader memahami perawatan paliatif adalah agar kader mengetahui kebutuhan paliatif pada pasien, mampu memberikan pendampingan yang sesuai, serta mendukung upaya untuk merujuk pasien ke layanan kesehatan di situasi dan waktu yang tepat.

Peran kader dalam perawatan paliatif:

Bunda Kader dapat melakukan skrining sederhana dengan Supportive and Paliative Care Indicator Tools (SPICT) untuk mengkaji apakah pasien membutuhkan perawatan paliatif

Dalam situasi yang sulit bagi pasien dan keluarga, Bunda Kader dapat berperan sebagai pendengar yang baik, menampung segala kesedihan dan keluh kesan yang dialami. Hal yang sederhana ini memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi pasien dan keluarga. Di saat seperti ini, Bunda Kader dibutuhkan untuk mendengarkan dan bukan memberikan informasi.

Setelah melakukan skrining, Bunda Kader dapat bertugas menjadi penghubung dengan petugas kesehatan atau puskesmas. Bunda Kader juga menjadi penghubung ke dukungan spiritual misalnya ustad, pastor, dan pihak lain sesuai kebutuhan pasien dan keluarga.

Pada kondisi paliatif, keluarga berada pada situasi yang kalut, sedih dan cemas. Hal ini akan mengurangi kemampuan mereka dalam berpikir dengan jernih. Bunda Kader dapat hadir dalam memberikan ketenangan dan pendampingan yang suportif sesuai dengan kebutuhan. Bunda kader dapat mendukung anggota keluarga untuk bersikap positif dan tidak mengeluarkan komentar yang menyakiti satu sama lain, misalnya: “kan saya sudah bilang, kalau sebaiknya Bapak (pasien) dibawa saja ke rumah sakit”

Untuk mengetahui kebutuhan paliatif pada pasien, Bunda Kader dapat mengikuti format yang juga digunakan oleh tenaga kesehatan di berbagai negara, termasuk di Indonesia, yaitu Format SPICT yang disederhanakan untuk dapat digunakan oleh orang awam, termasuk kader.

Tujuan skrining kebutuhan paliatif dengan SPICT adalah untuk:

  • Membantu kader mengenali tanda kebutuhan paliatif pada pasien sehingga keluarga perlu membicarakan mengenai perawatan paliatif kepada tenaga kesehatan

  • Menghindari keterlambatan pemberian perawatan paliatif yang bertujuan untuk peningkatan kualitas hidup

  • Meningkatkan fungsi dan peran kader dalam memberikan pendampingan emosional dan dukungan praktis kepada pasien dan keluarga

Skrining kebutuhan paliatif pada pasien kanker (SPICT)

Jika menjawab ya pada ≥ 3 pertanyaan – maka pasien membutuhkan perawatan paliatif, maka keluarga perlu melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan mengenal hal ini

Apabila Bunda Kader memperoleh 3 atau lebih tanda, maka:

  • Diskusikan dengan keluarga apakah telah mendapatkan informasi mengenai perawatan paliatif, bila belum, dukung keluarga mendiskusikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan perawatan paliatif

  • Laporkan pada perawat/dokter atau puskesmas

  • Kaji dan dukung keluarga dalam memberikan kenyamanan pada pasien dan memenuhi harapan pasien

  • Jadwalkan kunjungan yang lebih sering kepada pasien dan berikan dukungan kepada keluarga


Pada kondisi terminal, pasien kanker stadium lanjut yang telah berada pada fase paliatif akan masuk ke fase akhir kehidupan. Untuk itu, baik pasien maupun keluarga perlu untuk bersiap baik secara lahir maupun batin. Sebagai garda terdepan pemberi layanan sosial di masyarakat, Bunda Kader perlu mengenali tanda-tanda akhir kehidupan untuk dapat memberikan dukungan praktis yang bermanfaat.

Tanda-tanda proses kematian

Berikut ini, adalah berbagai tanda proses kematian:

  • Orang yang akan meninggal biasanya memiliki sedikit energi dan menghabiskan waktu untuk istirahat atau tidur.

  • Pasien masih mampu mendengar namun mata mereka menutup

  • Saat tubuh mulai menurun kondisinya dan menggunakan sedikit energi, pasien tidak lagi membutuhkan makan dan minum yang banyak, atau bahkan tubuh sudah mulai menolak makanan.

  • Memberikan minum seringkali sudah tidak efektif lagi di saat seperti ini.

  • Kita dapat membasahi atau melembabkan bibir supaya tidak kering serta melakukan perawatan mulut

  • Pernapasan tidak teratur (semakin cepat atau semakin lambat), nampak kesulitan bernapas dan ada suara saat bernapas (seperti ngorok).

  • Jumlah urin menurun (atau tidak ada)

  • Pada beberapa pasien akan kehilangan kendali sehingga muncul ngompol atau BAB tanpa disadari pasien.

  • Terjadi kehilangan memori, halusinasi (melihat sesuatu yang orang lain tidak dapat melihat), kesalahan pikiran (delusi), perubahan mood serta gangguan tidur.

  • Tangan dan kaki tidak berhenti bergerak, meracau atau memanggil-manggil orang

  • Pasien seringkali tidak lagi tahu siapa saja yang ada di ruangan bersama mereka, tidak banyak bicara atau seperti bicara dengan orang lain yang tidak ada di ruangan tersebut.

  • Hal ini bisa terjadi ketika zat kimia yang toksik mengumpul di otak dan organ vital saat fungsi tubuh memang sudah menurun.

  • Saat sirkulasi tubuh menurun, tangan, kaki dan jemari menjadi dingin dan berubah kebiruan.

Tindakan Kader pada Tanda Akhir Kehidupan

Hal yang dapat dilakukan Bunda kader apabila mendapatkan pasien dengan tanda-tanda akhir kehidupan:

Jelaskan bahwa ini adalah proses yang normal. Berikan suasana yang tenang di lingkungan rumah atau di kamar. Kurangi suara keras dan dukung keluarga untuk memberikan sentuhan dan bisikan lembut kepada pasien.

Kata-kata yang dapat bermanfaat: “Ibu/Bapak ini adalah proses alami, tubuh pasien sedang bersiap untuk meninggalkan dunia dengan damai. Mari kita bantu dengan doa”

Bunda Kader dapat mendukung keluarga untuk memberikan posisi yang nyaman bagi pasien, membersihkan mulut, atau meletakkan pampers di area tubuh belakang pasien (karena sering terjadi BAB dan BAK tanpa disadari). Dukung keluarga untuk berkumpul dan berdoa bersama.

Pada kondisi saat ini, cukup basahi bibir, amati kebutuhan pasien. Memaksakan minum dan makan malahan akan menimbulkan risiko pasien tersedak.

Kata-kata yang dapat bermanfaat: “Tidak perlu khawatir tentang makan dan minum karena tubuh beliau sudah tidak membutuhkan lagi saat ini.”

Bunda Kader dapat menghubungi langsung atau mendukung keluarga untuk konsultasi ke petugas kesehatan di puskesmas atau petugas kesehatan yang biasa berhubungan dengan keluarga. Dapatkan petunjuk atau nasihat dari tenaga kesehatan tentang apa yang harus dilakukan.

Bunda Kader dapat menuntun keluarga untuk mendukung pasien dengan doa atau dzikir sesuai agama dan kepercayaan, atau membantu memanggil pemuka agama. Beberapa agama memiliki ritual khusus menjelang akhir hayat, misalnya murottal (Islam), sakramen minyak suci (Katolik), doa penghiburan dan pengampunan (Kristen), pembacaan paritta atau sutra dan dupa (Buddha), serta mantra atau doa keagamaan (Hindu).

Untuk memahami lebih lanjut tentang perawatan paliatif, Bunda kader dapat menyimak Video 10: Perawatan Paliatif