2.3 Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara
Keberhasilan dalam menghadapi kanker payudara tidak hanya ditentukan oleh perawatan dan pengobatan yang dijalani, tetapi juga oleh upaya menjaga kualitas hidup yang baik. Berikut ini beberapa cara yang Bunda Kader dapat anjurkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara.
a. Manajemen nyeri
Nyeri merupakan salah satu gejala yang paling sering dialami oleh pasien kanker, terutama pada kondisi kanker metastasis. Nyeri ini dapat berlangsung dalam jangka waktu lama atau kronis, sehingga berdampak besar terhadap kualitas hidup pasien. Pada kanker metastasis, nyeri cenderung lebih berat karena sel kanker telah menyebar dan memengaruhi jaringan maupun organ tubuh yang lebih luas.
Oleh karena itu, manajemen nyeri menjadi aspek penting dalam perawatan pasien kanker. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kenyamanan, mempertahankan fungsi sehari-hari, dan mendukung keberhasilan pengobatan utama. Adapun cara untuk mengelola nyeri sebagai berikut:
Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan obat antinyeri untuk kanker payudara sesuai dengan keparahan 36 yang dialami. Bunda Kader perlu menyarankan pasien dan keluarga untuk mematuhi anjuran dan dosis yang diberikan oleh dokter untuk pengobatan nyeri:
- Pada nyeri ringan dapat menggunakan obat seperti paracetamol, ibuprofen, atau aspirin. Obat antinyeri ini dapat dibeli di apotek atau supermarket secara mandiri, tetapi dalam mengonsumsinya harus sesuai dengan petunjuk dan dosis yang dianjurkan.
- Pada nyeri tingkat sedang dapat menggunakan obat seperti kodein dan tramadol dengan resep dokter.
- Pada nyeri tingkat tinggi (nyeri berat hingga sangat berat) akan diberikan obat seperti morfin atau oksikodon. Pasien perlu dianjurkan untuk mengikuti resep dokter (termasuk dosis dan jam pemberian) untuk mencapai hasil yang maksimal. Yang seringkali terjadi adalah pasien mencoba mengurangi jumlah obatnya, dan itu justru mengganggu efektivitas obat itu sendiri.
Beberapa obat antinyeri akan memberikan efek samping yang berbeda pada pasien. Salah satunya yang sering muncul pada pengobatan antinyeri terutama nyeri sedang dan berat adalah konstipasi atau sembelit serta nafas pendek. Bunda Kader dapat menyarankan pada pasien dan keluarga untuk melaporkan pada tenaga kesehatan apabila mengalami efek samping selama mengonsumsi obat antinyeri. Misalnya mendiskusikan kepada dokter dan perawat mengenai makanan yang dapat dikonsumsi atau kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya sembelit atau saat terjadi nafas pendek.
Radioterapi dapat membunuh sel kanker, sehingga menurunkan ukuran tumor. Oleh karena itu, radioterapi sering dilakukan untuk mengurangi nyeri pada pasien
b. Perawatan luka
Kanker payudara dapat menyebabkan luka karena proses biopsi, metastasis (penyebaran) tumor yang muncul pada tingkat yang lebih dalam. Perawatan luka akan mencegah terjadinya infeksi serta meningkatkan kenyamanan pasien (dengan mengurangi bau yang tidak sedap dari luka).
Pasien kanker payudara terutama mBC, rentan mengalami pendarahan, sehingga perawatan luka harus dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional. Pasien mBC dapat melakukan rawat luka di puskesmas.
Adapun proses perawatan luka secara umum sebagai berikut, yaitu:
- Menjaga lingkungan yang bersih ketika merawat luka salah satunya dengan mencuci tangan sebelum dan setelah mengganti balutan luka.
- Membuka balutan dan membersihkan luka dengan air steril
- Menilai kondisi luka dan memberikan salep atau krim sesuai dengan anjuran dokter
- Memilih jenis balutan yang tepat, seperti balutan antimikroba dapat membantu mengurangi bau dan keluarnya eksudat (cairan).
Waktu yang tepat untuk mengganti balutan luka perlu disesuaikan dengan rutinitas harian pasien misalnya setelah mandi atau prosedur higienis lainnya. Dalam kasus kondisi yang parah, pemberian antinyeri perlu diberikan sebelum rawat luka supaya pasien merasa nyaman selama proses perawatan luka.
Beberapa hal yang harus diperhatikan Bunda Kader pada kondisi luka kanker payudara yang memerlukan penanganan segera oleh tenaga medis, adalah sebagai berikut:
- Nyeri yang ditimbulkan disertai kemerahan, panas (termasuk demam)
- Terjadi perubahan mendadak pada volume atau warna cairan dari luka
- Perubahan bau menyengat
Semua tanda dan gejala tersebut biasanya timbul karena infeksi. Segera minta pasien pergi ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis. Tenaga medis perlu segera menentukan pengobatan antibiotik yang tepat untuk mengendalikan kejadian infeksi tersebut.
c. Manajemen limfedema
Limfedema adalah pembengkakan jaringan lunak akibat akumulasi cairan di berbagai lokasi antara lain: lengan (atas dan bawah), tangan dan jari, bahu dan ketiak, dinding dada dan payudara. Limfadema dapat menimbulkan nyeri karena pembengkakan dalam jangka waktu yang lama, kehilangan fungsi tubuh, kelainan bentuk tubuh dan kelelahan. Hal ini dapat memberikan dampak fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan emosional pada pasien kanker payudara.
Manajemen limfedema dilakukan berdasarkan tingkat keparahan pembengkakan dan kondisi kesehatan masing-masing pasien sebagai berikut.
- Limfedema ringan (Stadium 1-2) biasanya ditangani dengan perawatan kulit, latihan, dan terapi kompresi. Terapi pijat juga dapat digunakan untuk limfedema stadium 1.
- Limfedema sedang atau berat (Stadium 3-4) biasanya memerlukan terapi limfedema kompleks yang akan ditentukan oleh dokter.
Gambar 6
Klasifikasi Tingkat Limfedema
Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk manajemen limfedema ringan yaitu:
- Perawatan kulit dan kuku untuk mencegah infeksi, menjaga ekstremitas tetap bersih dan kering, dan menghindari luka tusuk atau cedera kulit pada daerah yang mengalami limfedema
- Mencegah limfedema dapat dilakukan dengan senam dan latihan lengan yang dapat dilakukan 5-10 kali untuk setiap gerakan (lihat Video 8: Senam Limfedema Natural - SeNAm TUjuan geRAkan mencegah Limfadema)
- Pasien dapat melakukan pijat limfedema atau latihan ringan untuk membantu aliran cairan limfatik, yang harus dilakukan oleh tenaga profesional
- Terapi kompresi dapat membantu mengatasi limfadema. Prinsip terapi kompresi adalah memberikan penekanan. Terapi kompresi dapat menggunakan perban atau pakaian kompresi, seperti stoking (kaki atau lengan), bra, celana pendek dengan bantalan, atau rompi. Terapi ini perlu direkomendasikan oleh dokter atau tenaga profesional 40 karena tidak semua orang yang menderita limfedema dapat menjalani terapi kompresi.
- Perlu diingat, limfedema dapat memengaruhi perasaan pasien kanker payudara terkait harga diri, citra tubuh, kecemasan, depresi, bahkan keterasingan sosial. Oleh karena itu, penting untuk memberikan waktu bagi pasien yang mengalami limfedema untuk terbiasa dengan perubahan fisik maupun emosi, termasuk kemarahan maupun kecemasan. Ingatkan kepada keluarga untuk memberikan dukungan yang optimal.
Bunda Kader dapat menyimak Video 8: Senam Limfedema Natural (SeNAm TUjuan geRAkan mencegah Limfadema) untuk diajarkan pada pasien.
d. Manajemen kecemasan
Salah satu permasalahan pasien kanker payudara adalah kecemasan, baik terhadap pengobatan, masa depan dan kekambuhan. Keluarga berperan sangat penting untuk menurunkan kecemasan pasien.
Berikut adalah upaya yang dapat disarankan Bunda Kader kepada pasien:
Yoga bermanfaat untuk memberikan suasana positif pada pasien kanker payudara. Yoga yang diikuti dengan meditasi juga efektif mengurangi kecemasan pada pasien dengan kanker payudara. Para wanita disarankan untuk rutin berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari atau minimal 3 kali seminggu.
Penelitian pada pasien kanker payudara setelah operasi menyebutkan bahwa musik yang didengarkan selama 5-30 menit, termasuk musik klasik, tradisional, relaksasi, dan modern dapat menurunkan kecemasan dan nyeri. Pendekatan spiritual juga dapat diterapkan dengan terapi musik, misalnya dengan mutoral atau lagu rohani.
Hobi atau kegiatan yang menyenangkan bagi pasien dapat memberikan distraksi sehingga pasien tidak terlalu fokus pada rasa cemasnya. Selain itu, melakukan hobi dapat menggugah semangat pasien bahwa pasien masih berdaya. Hobi tersebut dapat berupa membaca, berkebun, bernyanyi, menjahit, menonton film, dan jalan-jalan bersama keluarga.
Berpartisipasi dalam komunitas dapat meningkatkan pengetahuan pasien tentang kondisi dan pilihan pengobatan mereka sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang tepat. Dalam komunitas, para penyintas juga akan membagikan pengalaman yang dapat membuat para anggota saling memahami perjuangan dan keberhasilan satu sama lain.
e. Manajemen Kelelahan
Kelelahan atau fatigue adalah salah satu gejala yang paling umum dialami oleh pasien kanker payudara, baik selama atau setelah proses pengobatan. Berikut adalah upaya yang dapat disarankan Bunda Kader kepada pasien untuk manajemen kelelahan:
Bunda Kader dapat membantu pasien dalam mengidentifikasi aktivitas yang prioritas. Pasien juga perlu membagi tugas dalam beberapa kegiatan sehingga tidak dilakukan pada satu waktu yang bersamaan. Berikan jeda di setiap aktivitas. 42 Selain itu, pasien juga dapat disarankan menggunakan kursi roda bila perlu.
Istirahat dan tidur adalah hal penting terutama pada pasien mBC. Bunda Kader dapat menyarankan keluarga untuk mendukung upaya tidur yang optimal pada pasien, misalnya dengan meminimalkan gangguan suara, memasang lampu yang redup mengatur suhu ruangan, atau misalnya berganti baju yang nyaman sebelum tidur.
Pastikan pasien mengonsumsi makanan dengan kualitas nutrisi yang baik. Pola makan yang kaya akan buah-buahan, sayur-sayuran hijau, biji-bijian utuh, dan asam lemak omega- 3 (misalnya, udang, tahu, alpukat, ikan lele, ikan kembung, dan ikan teri) terbukti dapat meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi rasa lelah pada penyintas kanker payudara.
f. Memberikan dukungan praktis
Lingkungan sekitar dapat memberikan dukungan praktis bagi pasien kanker payudara dan keluarga. Misalnya, saat pasien menjalani kemoterapi yang berlangsung lama, tetangga dapat membantu mencarikan orang untuk antar-jemput anak, menyiapkan makanan di rumah agar pasien bisa langsung beristirahat, membantu belanja sayur dan makanan harian, membantu menjaga anak di rumah saat pasien di rumah sakit, serta bentuk bantuan lainnya yang bagi kita mungkin sederhana tapi sangat bermanfaat bagi pasien.
Dukungan praktis lainnya misalnya dalam bentuk sosial dan emosional. Bunda Kader dapat mendukung tetangga pasien untuk menyempatkan waktu mengunjungi dan menemani pasien. Salah satu contoh lainnya adalah dengan menjadi pendengar yang aktif 43 terhadap keluh kesah pasien dan keluarga, yaitu dengan mendengarkan tanpa menghakimi atau memberi tekanan.